Senin, 19 Juli 2010

Catatan Cinta Sang Pengelana



Aku adalah angin kemana akan menuju / Kemarilah engkau sebelum aku berlalu /

Tak usah engkau urai isi hatimu / Tidak akan aku pedulikan semua itu /

Kata-kata bisa saja penuh dusta / Tetapi, matamu.. matamu yg membuat aku tersiksa /

Di matamu, aku mendapatkanmu / telanjang tak bersisa /


Maka tataplah aku wahai pemilik rindu / biarkan aku menyentuh hatimu /

Karena engkau tak akan bisa menyentuh hatiku / Kutahan waktu ini agar tidak cepat berlalu /


Jangan berkata tentang cinta / karena begitu kau berkata tentang cinta, maka itu bukan cinta /

Tak akan pula ku percaya omong kosong itu / Biarkan ku tafsirkan sendiri apa cinta itu /

Cinta hanya bisa kunikmati dalam diam / Mulut itu hanya alat untuk membual saja /

Nikmatilah diriku, selagi ada waktu / Bukankah ini yang kamu mau ? /


Dan kau, yang kerap tersakiti, mengapa terus mencari ?


Lihatlah embun diatas daun itu / Ia memberi hidup / Lalu mengalir / Lalu menetes / Lalu menguap / Lalu
menghilang…. Tak lebih dari itu aku memaknai cinta /

Aku tak pernah percaya pada sesuatu yg bisa menguap dan menghilang /

Tidak ada ketulusan jika berujung pada penderitaan /

Dan, penderitaan tetaplah penderitaan, tak ada keindahan yg kulihat disitu /


Dan kau, tahu apa tentang cinta ?


Cinta yang kau harapkan dan bayangkan, hanya ada di awang-awang..

Nyanyikanlah lagu cintamu dengan musikmu / Dan aku akan menyanyikan lagu cintaku dengan musikku /

Bagimu cintamu / Bagiku cintaku /


Dan sekarang, sudahkah kau puas menikmati aku ? / Karena aku harus segera pergi /

Masih jauh tempat yg harus kutuju / Masih panjang perjalananku /

Cintamu tak bisa mencegah kepergianku /

Aku harap tidak ada yg tersakiti /

Karena aku pergi untuk SESUATU yang lebih berarti…..


Cikarang, Desember 2009

FM

Catatan Untuk Ibu Di Hari Ibu



22 Desember....

Wajah itu tak mungkin aku lupakan seumur hidupku /

Tanpa lelah ia melakukan apa yg bisa ia lakukan /

Demi aku agar bisa tetap tersenyum /

Dalam hatinya hanya sebaris kalimat ini yg ia ucapkan terus menerus /

‘Kamu tidak boleh sedih nak… biarlah ibu yg menanggung kesedihan itu..’ /


Demi aku, ia sudah pertaruhkan segalanya /

Nyawa…. / Harta…. / Harga diri…. / bahkan kehormatan sekalipun /


Tak ada badai yg tak bisa ia tembus /

Kebeningan hatinya melebihi telaga surgawi /

Seribu mataharipun tak akan mampu menandingi sinar kasihnya /

Pengorbanannya adalah setulus-tulusnya pengorbanan /

Dan kelapangan hatinya, luas tujuh samuderapun menjadi tak berarti /


Wajah itu terus aku ingat /

Senandung kawih pengantar tidur itupun tetap aku ingat /

Dan, kata-kata ini…
“…. Atos natepan ?”
“…. Tuang heula atuh.. “
“…. Keun sing sabar.. “
“…. Gusti mah Maha Uninga.. “

Adalah kata-kata terindah yg pernah aku dengar.. /


Ketika ia bersimpuh dalam balutan mukenanya /

Dengarlah apa yg ia sampaikan kepada Sang Maha Kuasa /

“ Tuhanku, sembuhkanlah anakku… gantilah sakitnya dengan sehatku..” /

“ Tuhanku, maafkanlah dosa anakku… biarlah aku yg menanggung hukumanMU..” /

“ Tuhanku, bahagiakanlah anakku… biarlah aku yg menderita menghadapi ujianMU.. “/


Tak kuasa aku melihat wajah itu /

Selalu tersenyum manakala aku menangis /

Selalu menangis manakala aku tersenyum /


Bagimu, wahai sang penjaga tidurku /

Kesederhanaanmu adalah kemewahanmu /

Kesabaranmu adalah kekuatanmu /

Cinta kasihmu adalah kekayaanmu /


Janjiku, aku akan menjadi orang seperti yg engkau inginkan.. !!

( Hatur nuhun MAMAH….. salam baktos ti Aa)


Cikarang, 22 Desember 2009

FM

Catatan :

**
Kupersembahkan tulisan ini untuk Ibu-Ibu di seluruh dunia… ‘Tak ada Ibu yg tak baik’

**
“ Atos natepan ?” = “ sudah shalat ?”
“ Tuang heula atuh “ = “ Makan saja dulu “
“ Keun sing sabar “ = “ Bersabarlah.. “
“ Gusti mah Maha Uninga “ = “ Tuhan Maha Mengetahui “
Hatur nuhun = terima kasih
Salam baktos = sembah bhakti

Catatan Hati Untuk Ola


22 Mei

Anakku, Cintaku, Puteriku, Pusakaku…. Kakak Ola.

Selamat ulang tahun sayangku,
Ma’afkan ayah yang selalu memperlakukanmu sebagai anak kecil. Itu semata-mata karena ayah masih belum mau kehilangan kenangan dimana ayah melihat derai tertawa dan pelukan tangan kecilmu memeluk leher ayah.. Itu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup ayah..

Selamat ulang tahun buah hatiku,
Ma’afkan ayah yang selalu bertanya dengan sejuta pertanyaan yang menjengkelkan. Itu semata-mata karena ayah hanya ingin menjagamu dari dunia yang penuh tipu daya ini. Apa yang harus ayah katakan kelak kepada Tuhan bila ayah tidak bisa menjaga amanahNYA yang dititipkan kepada ayah?

Selamat ulang tahun bidadariku,
Ma’afkan ayah yang selalu berharap lebih kepadamu. Itu semata-mata karena ayah sudah lebih dulu mengarungi samudera kehidupan ini. Cukup ayah saja yang terlempar oleh ombak, menabrak batu karang, terluka melawan badai. Ayah lakukan ini sebagai tebusan agar kamu tidak mengalami seperti yang ayah alami…

Jangan membenci ayah kak… suatu saat kakak akan mengerti apa yang sudah ayah lakukan.

Berilah kesempatan kepada ayah untuk menerima kenyataan bahwa kakak sekarang sudah besar, sudah tidak mau ayah peluk lagi, sudah mengidolakan sosok laki-laki lain selain ayah..

Jangan khawatir sayang… jalani hidup apa adanya karena kelak kamu sendirilah yang akan membuat keputusan. Jangan takut salah karena ayah akan membuat itu menjadi benar. Jangan takut tersandung karena ayah senantiasa akan ada untuk menopangmu. Jangan takut kalah karena ayah akan mengubah kamu menjadi seorang pemenang. Jangan takut jatuh karena ada dua tangan ayah yang akan menolongmu dan membuatmu bangkit kembali. Hadapi hidup ini dengan penuh keberanian…

Hanya ini yang bisa ayah berikan untuk ulang tahun kakak..


Ayah,

Isra' Dan Mi'raj


Catatan:
** Tulisan ini menjadi ‘hutang’ kepada diriku sendiri dan kepada temanku Justin Candra untuk menulis pendapatku tentang Isra’ dan Mi’raj.
** Karena ini pendapatku, maka kebenaran tentang tulisan ini sudah tentu sangat subyektif. Untuk itu, segalanya aku serahkan kepada pembaca.
** Sebisa mungkin, aku ambil beberapa referensi sebagai penunjang agar argumentasi yg digunakan mempunyai sumber pustaka.


Sebagai sebuah peristiwa sejarah, Isra’ dan Mi’raj diabadikan dalam Kitab Suci umat Islam Al-Qur’an. Surat Al-Israa’ (QS 17:1) “ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-NYA pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Serta di surat lain An Najm (QS 53:13-18) “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain. (yaitu) di Sidratul Muntaha. Didekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

Konon, peristiwa ini dilatarbelakangi dengan dua peristiwa yang sangat mengguncangkan hati Sang Nabi, yaitu meninggalnya isteri tercinta, Khadijah dan paman sang pelindung beliau yang menjadi benteng tangguh dari serangan dan terror kaum Quraisy yang menolak ajaran beliau saat itu. Rupanya Tuhan tidak membiarkan hambaNYA yang terpilih ini gundah gulana, kepadanya-lah risalah-risalah Ilahi harus disampaikan kepada umat manusia, Muhammad masih menyandang tugas kenabian yang harus dia selesaikan, dia tidak boleh melupakan itu meski dia didera dengan cobaan yang maha dahsyat yaitu berpulangnya 2 orang yang sangat berperan penting dalam mendukung dia dalam melaksanakan tugas-tugas kenabian.

Maka, terjadilah peristiwa sejarah yang agung ini. Jibril diutus untuk membawa Rasul Agung ini ‘berwisata’ untuk membangkitkan kembali motivasi dan mental Muhammad yang sedang ‘down’ saat itu. Peristiwa ini menjadi fenomenal karena pelakunya adalah seorang nabi didampingi dengan seorang malaikat, jadi ini bukanlah ‘wisata’ biasa, ini ‘wisata’ yang sarat dengan kemukjizatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa. Tuhan, Sang Penguasa Bumi dan Langit, ingin mempertontonkan kekuatan dan kekuasaanNYA kepada Muhammad, nabi yang IA pilih untuk menyampaikan pesan-pesanNYA kepada makhlukNYA.

Dalam buku ‘Terpesona di Sidratul Muntaha’ karya Agus Mustofa, dipaparkan bahwa sebenarnya dua peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini walaupun terjadi secara simultan tetapi sejatinya itu adalah dua peristiwa yang berbeda secara metodologi, itu terbukti dengan pengabaran peristiwa ini di dua surat terpisah dalam Al-Qur’an. Isra’ di dalam surat Al-Israa’ sedangkan Mi’raj di dalam surat An Najm seperti yang tercantum pada awal tulisan ini. Secara ringkas digambarkan bahwa, Isra’ adalah perjalanan malam hari dari Mesjidil Haram di Mekah ke Mesjidil Aqsha di Palestina hanya beberapa menit saja. Seperti yg saya ingatkan, bahwa peristiwa ini sarat dengan kemukjizatan karena memang Tuhan sedang mempertontonkan kekuasaanNYA. Tetapi Tuhan memberikan ruang bagi makhlukNYA yang berakal untuk mencari hikmah dari kejadian ini, untuk itu beberapa ahli dan ulama mencoba mendekati pendekatan ilmiah. Pada zaman itu belum ada pesawat jet atau express train, yang ada adalah menunggang unta kalau melakukan perjalanan jarak jauh.

Jarak antara Mekah dan Palestina yang ditempuh jika menunggang unta akan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Sehingga bila Muhammad menempuh dengan beberapa menit saja tentu dengan kecepatan yg sangat dahsyat. Kecepatan yang dianggap paling cepat di dimensi dunia ini adalah cahaya, mungkinkah kecepatan itu yg dialami Sang Nabi ? Mungkin saja, kenapa tidak ? teori tentang ini baru ditemukan abad ke 20 oleh Einstein dengan rumus E = m C² bahwa suatu materi padat yg mempunyai massa bisa menjadi energi bila menempuh kuadrat kecepatan cahaya. Kalau begitu siapa yang membuat kecapatan dahsyat itu ? itulah peran yg dijalankan oleh Bouraq dan Jibril. Secara fiksi perpindahan materi yg ditandai dgn perubahan wujud ke dua tempat yg terpisah jauh, bisa dilihat dalam film ‘star treck’ atau sejenisnya. Perpindahan itu dilakukan dalam tabung energi, itulah mungkin mengapa peristiwa ini terjadi dari mesjid ke mesjid. Mesjid adalah tabung energi super dahsyat..!

Mengapa ke Palestina ? karena disinilah Muhammad diajak untuk menapak tilas tentang sejarah ajaran yg ia bawa, bahwa beliau meneruskan ajaran dan tugas kenabian seperti yg dilaksanakan oleh nabi-nabi sebelumnya.

Lalu bagaimana dgn Mi’raj ? dalam dunia astronomi, yang disebut langit pertama itu berisi 200 milyar galaksi yg masing galaksi berisi 100 milyar bintang dan planet. Jarak terdekat saja dari bumi adalah galaksi bima sakti sejauh 25 ribu tahun cahaya, artinya walaupun Muhammad menunggangi Bouraq yang menempuh kecepatan setara kecepatan cahaya dibutuhkan waktu 25 ribu tahun utk mencapai galaksi terdekat ini, belum galaksi-galaksi lain yg jumlahnya milyaran, dan ini baru lapisan langit pertama, sedangkan langit pertama adalah satu butir pasir dari hamparan padang pasir lapisan langit kedua, dan lapisan langit kedua adalah satu butir pasir dari padang pasir langit ketiga, begitu seterusnya sampai langit ke tujuh. Sampai di langit ke tujuh inilah digambarkan perjalanan Muhammad berujung. Apakah rumus Einstein itu bisa berlaku disini ?

Fakta inilah, yang menyebabkan ada dua arus pendapat bahwa Muhammad mengalami Mi’raj dengan badan fisiknya, sedangkan pendapat lain (termasuk saya) meyakini bahwa perjalanan Mi’raj Nabi adalah bukan dalam dimensi fisik, tetapi perjalanan spiritual tubuh energi (eternal body) Muhammad dalam menembus dimensi2 ketuhanan yang disimbolkan dengan lapisan langit. Bagi Sang Nabi Muhammad SAW yang suci tidak ada bedanya wujud fisik dan wujud spiritnya, artinya apa yang dialami dalam Mi’raj beliau seolah-olah terjadi seperti beliau dalam dunia fisiknya.

Saya tidak akan membahas peristiwa Mi’raj ini lebih dalam, karena memang tidak mudah untuk dijelaskan. Saya ingin menjawab pertanyaan diri saya sendiri : Apakah Isra’ dan Mi’raj adalah hak yang diberikan Tuhan ‘hanya’ untuk Muhammad seorang ? Jawabannya adalah ya dan tidak!, hak yang diberikan Tuhan, apapun itu, kepada Muhammad, bisa juga diberikan kepada manusia lainnya, ASAL manusia itu sudah bisa menjadi seorang “Muhammad”… tetapi bagi kita umat beliau, yang harus kita akui levelnya jauh sekali dibawahnya, kita masih bisa menikmati hak Mi’raj sesuai dengan kemampuan dan level kita. Kapan itu ? Janji Tuhan untuk memberikan hak Mi’raj itu disampaikan melalui ucapan Sang Rasul Muhammad SAW “Mi’rajnya orang mukmin adalah pada waktu shalat”. Itulah sebabnya, peristiwa Isra’ dan Mi’raj selalu dikaitkan dengan perintah shalat.

Sebagai penutup, saya ingin menampilkan kutipan dari seorang ilmuawan muslim bernama Abdul Karim Al Jaili dalam bukunya yang fenomenal ‘Insan Kamil’ terkait masalah ini. “ Ketahuilah, sejatinya Sidratul Muntaha itu adalah penghujung (muara) tempat dan puncak kedudukan, yang bisa digapai makhlukNYA dalam meniti jalan Tuhan, tempat setelah Sidratul Muntaha adalah Khusus untul Al Haq.. “


Wallahualam.. hanya Tuhan yang Maha Mengetahui kebenaran sejati.

Cikarang, 22 Juli 2009

Penulis,


Faisal Mahbub

Curahan Hati Sang Iblis



Panggil aku Azzazil, atau panggil aku Lucifer, atau lebih mudahnya panggil saja aku Iblis… kalian mungkin lebih mengenal nama ini.

Kepada kalian, wahai manusia-manusia , sudahkah kalian mengenaliku dengan baik ? sedangkan aku sangat mengenali kalian sejak kalian akan diciptakan oleh Tuhanku…

Aku lah sang Iblis, yang berani menentang keputusan Tuhanku manakala DIA berkehendak untuk menciptakan kalian. Aku mencintai Tuhanku lebih dari siapapun… Aku tidak akan rela, selamanya, bila ada makhluk lain yang merendahkan Keagungan NamaNYA.

Iya..!! aku tegaskan kepada kalian, bahwa aku akan berusaha untuk menggoda dan menyesatkan kalian… dengan segala daya dan kemampuanku yang aku dapatkan dari Tuhanku atas pengabdianku kepadaNYA. Di depan Tuhan aku bersujud, tetapi terhadap manusia tidak akan pernah.

Dan sekarang, lihatlah manusia-manusia bodoh di sekeliling kalian… dengan mudahnya mereka menyebut DEMI ALLAH untuk menutupi perilaku busuknya, dengan gampang mereka teriakan ALLAHU AKBAR untuk merusak dan menghilangkan nyawa sesamanya. Terbuktilah sudah kekhawatiranku… Teganya kalian merendahkan Nama Tuhanku, sedangkan aku sendiri yang selalu kalian timpakan tuduhan sebagai biang kerok, tidak sedikitpun berani untuk melakukan seperti yang kalian lakukan.

Segampang itukah kalian menyalahkanku atas dosa-dosa kalian…

Kalian menyangka bahwa aku adalah makhluk terhukum, tidak jadi masalah bagiku kalau pengetahuan kalian baru sampai disitu… Tetapi, ingin aku beritahu kalian, ‘hukuman’ itu aku terima sebagai ‘tugas’ dari Tuhanku yang harus aku jalankan.

Tidaklah kalian sadar, tidak ada kuasa yang bisa melebihi kuasaNYA. Untuk melenyapkan diriku saja itu semudah kedipan mata. Tetapi, DIA membiarkan aku hidup untuk alasan yang tidak akan pernah kalian ketahui….

Huahuahahahaha… bagaimana kalian akan tahu tentang rahasia-rahasia Tuhan, kalau kalian sendiri sibuk dengan urusan tiada guna. Urusan2 yang hanya berpikir bagaimana mencari keuntungan pribadi, dengan menghalalkan segala cara, mengorbankan sesama, kalian lindas sendiri saudara-saudara kalian yg lemah.

Aku ingatkan, bukankah kalian telah mengikatkan diri dengan perjanjian terhadap Tuhan, sebagaimana diriku mempunyai perjanjian denganNYA.

Segampang itukah kalian menyalahkanku atas dosa-dosa kalian…

Kalian hidup di alam penuh cahaya tetapi kalian memilih menjumpaiku di alam kegelapan, begitu mudahnya kalian terpedaya..

Sementara aku, inilah rumahku yang dipilihkan Tuhan untukku… Akulah sang penguasa alam kegelapan dan sama sekali tidak tertarik dengan alam kalian, karena itu bukan rumahku.

Akulah jalan yang harus kalian hadapi sebelum kalian bertemu dengan SANG MAHA SUCI, manusia kotor seperti kalian tidak layak untuk bersanding denganNYA.

Akulah penghalang bagi kalian dalam upaya kalian menghampiri pintu rumahNYA, untuk itu kalahkanlah aku…

Kalahkanlah aku, seperti Muhammad Sang Nabi itu mengalahkanku.. !!

Lemparilah aku, seperti bapak dan anak, Ibrahim dan Ismail, melempariku.. !!

Hempaskan diriku, seperti Jesus, laki-laki dari Nazareth itu menghempaskanku.. !!

Tolaklah aku, seperti Siddartha sang pangeran itu menolakku mentah-mentah.. !!

Lawanlah aku, seperti para pemberani-pemberani yg sudah berani melawanku.. !!

Terhadap manusia-manusia suci dan pemberani ini, aku tidak berdaya… firman2 suci yang keluar dari mulut suci mereka dapat menghanguskanku, berbeda dengan mulut2 kalian yg dengan gampang mengutip ayat2 suci dgn penuh kemunafikan, aku bahkan bisa tertawa penuh kegelian…

Segampang itukah kalian menyalahkanku atas dosa-dosa kalian…

Terakhir, aku ingatkan kepada kalian, bahwa di dunia ini saja kalian bisa menyalahkanku tetapi kelak ketika kalian berhadapan langsung dengan Tuhan yang Maha Kuasa, kalian TIDAK BISA lagi menyalahkanku atas dosa-dosa kalian.


Cikarang, Desember 2009.

FM

Tuhan, versi The Beatles



JOHN LENNON:
Aku percaya Tuhan itu layaknya ruang sumberdaya listrik, tempat tenaga listrik disimpan, seperti stasiun pembangkit listrik. Dan Tuhanlah sumber tenaga paling utama, dan Tuhan tidak baik atau tidak buruk, kiri, kanan, hitam, atau putih, Tuhan ya Tuhan. Kita menampung tenaga itu dan memakainya sesuai dgn keinginan kita. Sebagaimana halnya listrik bisa membunuh orang di kursi listrik, listrik juga bisa menerangi ruangan dengan cahayanya. Menurutku, Tuhan seperti itu.

PAUL MC CARTNEY:
Dalam kehidupan dan segala macam hal yg telah kulalui, aku meyakini kebaikan, kebajikan. Secara umum kupikir yg telah dilakukan orang-orang melalui agama adalah mempersonifikasikan kebaikan dan keburukan, karena itu, 'good' menjadi 'God' dgn membuang satu huruf 'o', dan 'evil' menjadi 'devil' dgn menambahkan satu huruf 'd'. Itulah teoriku tentang agama.

GEORGE HARRISON:
Jika Tuhan ada, aku ingin melihatNYA. Menurutku, meyakini sesuatu tanpa bukti tak ada gunanya. Melalui kesadaran serta meditasi Krishna kau benar-benar bisa memperoleh persepsi tentang Tuhan. Kau sungguh-sungguh bisa melihat Tuhan dan mendengarNYA, bermain bersamaNYA. Ini mungkin terdengar aneh, tapi Tuhan sungguh ada di sana bersamamu.

RINGO STARR:
Aku tak mau menghadiri upacara penguburan karena aku tak meyakini hal-hal seperti itu. Aku sepenuhnya yakin bahwa arwahmu telah pergi begitu jasadmu dimasukkan ke dalam mobil jenazah. Ia ada di atas sana atau entah dimana. Aku yakin... sering kali aku tak sabar untuk cepat-cepat pergi.


FM

Sabtu, 17 Juli 2010

Natal Di Mataku



Maria terduduk lesu, pucat wajahnya belum pula menghilang. Sampai saat itu, ia masih tak percaya apa yg sudah ia alami. “mana mungkin….. mana mungkin…” hatinya terus menerus memberontak. Wanita saleh ini tak kuasa menerima sebuah kenyataan… “Tuhanku.. Engkaulah pelindungku… kuatkanlah aku…” Hanya kata-kata inilah yang bisa ia ucapkan. Kedua matanya yang indah itu terbalut dengan genangan air yg tak mampu ia cegah, perlahan mengalir… menetes…. Dan Maria, ia biarkan takdirnya terjadi seperti air mata itu terjadi.

Masih terbayang jelas peristiwa yang tak mungkin ia lupakan seumur hidupnya. Ketika ia sedang berjalan seorang diri, menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Tiba-tiba, muncul dihadapannya sesosok manusia dalam bentuk yang sempurna. Gagah tapi sinar matanya memancarkan kelembutan… Wajahnya elok rupawan tanpa cela… Senyumnya mengartikan lautan kasih… Ia adalah Jibril itu.

Maria tersentak kaget bukan kepalang. Sesaat, ia jaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh. Ia memberanikan diri untuk berkata,

“Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.

Sosok rupawan itu membalas keterkejutan Maria,

“ Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”

Maria pun berkata,

“Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”
Ya, Maria hanya seorang wanita polos biasa. Yang ia tahu, seorang anak hanya bisa dilahirkan oleh seorang perempuan yang sudah bersuami.

Tetapi, Jibril berkata,

“Demikianlah. Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagiKU; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan’”.


Akhirnya, Maria menyerah. Ia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari ‘suatu perkara yang sudah diputuskan’ itu. Ia menyadari bahwa Tuhan sudah memilihnya untuk sebuah rencana AgungNYA. Bulat sudah, ia akan menjalankan takdir yang akan dijalaninya.

“Maka, Maria mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya ke tempat yang jauh”



Hari berlalu, bulan berlalu… Maria menjaga kandungan dengan nyawanya. Sesekali ia menyapa bayi yang dikandungnya,
“Sedang apakah engkau wahai anakku ?”
“Sungguh, ibumu sudah melihat, jika kelak engkau sudah lahir ke dunia ini, engkau tidak akan mudah menjalani hidup ini. Engkau adalah anak istimewa… Engkau adalah pilihanNYA… Bersabarlah ya nak…. Hanya Tuhan lah yang akan jadi pelindungmu.” Sesekali pula, Maria senandungkan kidung pujian kpd Tuhan untuk ia perdengarkan kpd anak yang dikandungnya itu.

Dan, tibalah hari yang dinantikan itu….

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”.

Rintihan Maria menembus langit, mengguncang arasy Tuhan, maka turunlah Jibril Sang Pembawa Firman,

Maka Jibril menyerunya dari tempat rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.”

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yg masak kepadamu.”

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.”

Dan, lahirlah bayi manusia suci itu. Bayi inilah kelak yang akan membawa kabar gembira untuk umat manusia… Bayi inilah kelak akan membebaskan umat manusia dari kehancuran moral… Bayi ini kelak akan menebus dengan pengorbanan dirinya demi menyelamatkan umat manusia…. Bayi ini kelak menjadi Raja di Kerajaan Surga.
Bayi ini adalah ISA AL-MASIH atau,
Bayi ini adalah JESUS CHRIST atau,
Bayi ini adalah YESUS KRISTUS.


Cikarang, Desember 2009

FM

Catatan dari Penulis:

Tulisan ini hanya menampilkan sisi pandang penulis yang seorang muslim terhadap kisah kelahiran Isa Al-Masih/Yesus Kristus, yang saat ini akan dirayakan oleh umat Kristiani sebagai Hari raya Natal. Kisah dalam tulisan ini bersumber dari Kitab Suci Umat Islam, Al-Qur’an dalam Surat Maryam Ayat 16 – 26.

Tujuan saya membuat tulisan ini adalah sekedar ikut menyampaikan kabar, seperti yang sudah dilakukan oleh para pendahulu saya, bahwa begitu besar penghormatan umat Islam terhadap Nabi Isa Al-Masih/Yesus Kritsus. Nabi ini dipercaya sebagai salah satu Nabi Pilihan di antara para nabi2 lainnya bersama Nabi Ibrahim/Abraham, Musa/Moses, Daud/David, dan tentunya Nabi Muhammad SAW sebagai nabi penutup pembawa risalah Tuhan.

Untuk itu, tidak perlu ada rasa saling bermusuhan di antara umat beragama karena tidak ada agama di muka bumi ini yang mempunyai Tuhan sendiri. Semua umat beragama, semua umat manusia di muka bumi ini, sesungguhnya HANYA menyembah SATU TUHAN. Tuhan Yang Maha Esa lah yang menciptakan agama-agama yang beragam ini untuk kepentingan makhlukNYA, agar saling mengenal dan saling tolong menolong.

Saya dedikasikan tulisan ini kepada saudara-saudara umat kristiani yang sedang merayakan Hari Raya Natal.

SELAMAT NATAL 2009 DAN TAHUN BARU 2010

FM