Sabtu, 17 Juli 2010

Natal Di Mataku



Maria terduduk lesu, pucat wajahnya belum pula menghilang. Sampai saat itu, ia masih tak percaya apa yg sudah ia alami. “mana mungkin….. mana mungkin…” hatinya terus menerus memberontak. Wanita saleh ini tak kuasa menerima sebuah kenyataan… “Tuhanku.. Engkaulah pelindungku… kuatkanlah aku…” Hanya kata-kata inilah yang bisa ia ucapkan. Kedua matanya yang indah itu terbalut dengan genangan air yg tak mampu ia cegah, perlahan mengalir… menetes…. Dan Maria, ia biarkan takdirnya terjadi seperti air mata itu terjadi.

Masih terbayang jelas peristiwa yang tak mungkin ia lupakan seumur hidupnya. Ketika ia sedang berjalan seorang diri, menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Tiba-tiba, muncul dihadapannya sesosok manusia dalam bentuk yang sempurna. Gagah tapi sinar matanya memancarkan kelembutan… Wajahnya elok rupawan tanpa cela… Senyumnya mengartikan lautan kasih… Ia adalah Jibril itu.

Maria tersentak kaget bukan kepalang. Sesaat, ia jaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh. Ia memberanikan diri untuk berkata,

“Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.

Sosok rupawan itu membalas keterkejutan Maria,

“ Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”

Maria pun berkata,

“Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”
Ya, Maria hanya seorang wanita polos biasa. Yang ia tahu, seorang anak hanya bisa dilahirkan oleh seorang perempuan yang sudah bersuami.

Tetapi, Jibril berkata,

“Demikianlah. Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagiKU; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan’”.


Akhirnya, Maria menyerah. Ia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari ‘suatu perkara yang sudah diputuskan’ itu. Ia menyadari bahwa Tuhan sudah memilihnya untuk sebuah rencana AgungNYA. Bulat sudah, ia akan menjalankan takdir yang akan dijalaninya.

“Maka, Maria mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya ke tempat yang jauh”

…

Hari berlalu, bulan berlalu… Maria menjaga kandungan dengan nyawanya. Sesekali ia menyapa bayi yang dikandungnya,
“Sedang apakah engkau wahai anakku ?”
“Sungguh, ibumu sudah melihat, jika kelak engkau sudah lahir ke dunia ini, engkau tidak akan mudah menjalani hidup ini. Engkau adalah anak istimewa… Engkau adalah pilihanNYA… Bersabarlah ya nak…. Hanya Tuhan lah yang akan jadi pelindungmu.” Sesekali pula, Maria senandungkan kidung pujian kpd Tuhan untuk ia perdengarkan kpd anak yang dikandungnya itu.

Dan, tibalah hari yang dinantikan itu….

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”.

Rintihan Maria menembus langit, mengguncang arasy Tuhan, maka turunlah Jibril Sang Pembawa Firman,

Maka Jibril menyerunya dari tempat rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.”

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yg masak kepadamu.”

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.”

Dan, lahirlah bayi manusia suci itu. Bayi inilah kelak yang akan membawa kabar gembira untuk umat manusia… Bayi inilah kelak akan membebaskan umat manusia dari kehancuran moral… Bayi ini kelak akan menebus dengan pengorbanan dirinya demi menyelamatkan umat manusia…. Bayi ini kelak menjadi Raja di Kerajaan Surga.
Bayi ini adalah ISA AL-MASIH atau,
Bayi ini adalah JESUS CHRIST atau,
Bayi ini adalah YESUS KRISTUS.


Cikarang, Desember 2009

FM

Catatan dari Penulis:

Tulisan ini hanya menampilkan sisi pandang penulis yang seorang muslim terhadap kisah kelahiran Isa Al-Masih/Yesus Kristus, yang saat ini akan dirayakan oleh umat Kristiani sebagai Hari raya Natal. Kisah dalam tulisan ini bersumber dari Kitab Suci Umat Islam, Al-Qur’an dalam Surat Maryam Ayat 16 – 26.

Tujuan saya membuat tulisan ini adalah sekedar ikut menyampaikan kabar, seperti yang sudah dilakukan oleh para pendahulu saya, bahwa begitu besar penghormatan umat Islam terhadap Nabi Isa Al-Masih/Yesus Kritsus. Nabi ini dipercaya sebagai salah satu Nabi Pilihan di antara para nabi2 lainnya bersama Nabi Ibrahim/Abraham, Musa/Moses, Daud/David, dan tentunya Nabi Muhammad SAW sebagai nabi penutup pembawa risalah Tuhan.

Untuk itu, tidak perlu ada rasa saling bermusuhan di antara umat beragama karena tidak ada agama di muka bumi ini yang mempunyai Tuhan sendiri. Semua umat beragama, semua umat manusia di muka bumi ini, sesungguhnya HANYA menyembah SATU TUHAN. Tuhan Yang Maha Esa lah yang menciptakan agama-agama yang beragam ini untuk kepentingan makhlukNYA, agar saling mengenal dan saling tolong menolong.

Saya dedikasikan tulisan ini kepada saudara-saudara umat kristiani yang sedang merayakan Hari Raya Natal.

SELAMAT NATAL 2009 DAN TAHUN BARU 2010

FM

Kamis, 15 Juli 2010

Nyepi Bukan Sepi, Bukan Pula Kesetiaan



Nyepi bukanlah sepi, bukan pula kesepian. Nyepi adalah sebuah kerja spiritual yang tercipta dari sebuah proses berpikir (tafakur). Konon, sekitar abad ke 8 Masehi seorang raja di India bernama Kaniska I sangat tertarik dengan suku bangsa Saka yang berkarakter anti kekerasan, lebih suka berdamai daripada berperang. Sementara sang raja Kaniska I tak henti-hentinya terus berperang, yang walaupun bisa memenangkan setiap peperangan tetapi tidak membuat hatinya tentram. Rupanya, tidak ada ketenangan dan kedamaian bisa dilahirkan melalui peperangan. Akhirnya sang raja Kaniska I menghentikan kebijakan militeristiknya dan mengganti dengan hubungan persahabatan penuh damai dengan Negara-negara tetangga. Saat itulah dimulai ditetapkannya tahun baru Saka untuk mengabadikan suku bangsa Saka sebagai inspirator perdamaian.

Dengan semangat ketenangan dan kedamaian inilah, umat Hindu Bali merayakan pergantian tahun baru Saka ini dengan Nyepi. Melakoni laku tapa terhadap aktivitas kehidupan dalam rentang waktu tertentu. Kerinduan akan ketenangan dan kedamaian ini adalah sifat fitrah manusia. Jauh sebelum itu umat Yahudi menetapkan hari Sabtu (Sabbath) sebagai hari “nyepi”nya mereka. Kemudian umat Islam menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai waktu yang dianjurkan untuk berinstropeksi diri, walaupun masih diperbolehkan beraktivitas tetapi pada bulan ini umat muslim dituntut untuk mengekang dan mengendalikan hawa nafsu.

Nyepi adalah simbol. Tidak makan dan minum adalah isyarat agar kita tidak selalu mengikuti hawa nafsu manusiawi. Bersabar menerima takdir harus dilatih dengan bersabar menahan lapar. Tidak menyalakan api adalah isyarat untuk tidak menyalakan api didalam jiwa kita. Kesombongan, kedengkian dan kemarahan adalah sifat hawa nafsu yang dicitrakan dengan api. Ingatlah pada kisah langit tentang penolakan Iblis bersujud kepada Adam. Iblis adalah citra hawa nafsu yang terbuat dari api. Tidak bepergian adalah isyarat untuk kita selalu ingat darimana kita berasal. Kita adalah makhluk ciptaan dan akan kembali kepada Sang Pencipta. Tidak melakukan hiburan adalah isyarat bahwa disitulah tempat dimana manusia sering lupa akan kesejatian dirinya.

Demikianlah, nyepi bukanlah sepi bukan pula kesepian. Nyepi adalah semangat hidup. Semangat hidup itu ada pada diri kita semua.

Selamat merayakan Hari raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1931 M.

Terompet Berumbai Emas



"Mak... beliin aku terompet, spt teman2ku.. yg berumbai emas.."
"Duh nak.. terompet yg begitu mahal, nanti saja minta bapakmu buatin ya.."
"Gak mau mak.. buatan bapak suaranya tidak keras, tidak ada rumbai emasnya.."
"iya nak emak tahu.. sudahlah kamu masih demam, sakitmu makin parah.. beristirahatlah.."
"Aku mau tidur, tapi emak harus berjanji beliin aku terompet yg berumbai emas itu.."
"Emak gak bisa janji nak.. tapi mudah2an ya.. sekarang tidurlah anakku.."

Duh.. Gusti Pangeranku.. apakah aku harus memohon kepadaMU hanya untuk sebuah terompet berumbai emas? tetapi memang aku tidak bisa apa2 lagi.. Aku mencoba bersabar dengan kemiskinanku.. Aku senantiasa bersyukur dg penghasilan suamiku yg seorang pemulung.. tapi aku merasa jadi seorang ibu yg tak berguna melihat sesosok tubuh lemah, darah dagingku sendiri, sedang melawan penyakitnya sendiri dan dari mulut mungilnya hanya ingin dibelikan terompet berumbai emas.. Oh Yang Widi..

"Assalaamualaikum.."
"Ah bapak.. syukurlah"
"Bagaimana keadaan anak kita bu..?'
"Makin parah pak.. tadi dia minta dibeliin terompet berumbai emas katanya.."
"Seandainya tadi tidak ada razia, mungkin aku masih bisa membawa uang dan membelikan apa yang dia minta, tapi tak apalah.. aku pergi lagi bu.. aku akan PULANG dengan membawa terompet berumbai emas itu.."
"Makan dulu pak, tunggu hujan berhenti dulu pak.. hari sudah larut, bapak mau pergi kemana?"
"Entahlah bu.. bapak akan merasa berdosa kalau ini menjadi permintaan terakhirnya.."
"Kalau begitu pakailah jaket coklat itu, walaupun sdh lusuh tapi masih bis digunakan agar bapak tidak kedinginan.."

DUA JAM BERLALU..
Di sebuah sudut jalan, ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi sesosok tubuh berdarah, dingin dan kaku..
"kasihan.. korban tabrak lari.." demikian orang2 itu bergumam.
Dan tubuh yang tergeletak itu berjaket cokelat lusuh dan di tangan kanannya tergenggam erat sekali, sebuah terompet berumbai emas..


Cikarang, Akhir Desember 2008

(Untuk anak2 ku Ola, Icha dan Elmo... Selamat Tahun Baru)

Mengenang Sang Rasul Agung



Ia laki-laki sederhana, tapi alam tak sanggup menampung kekayaan bathinnya.
Ia manusia biasa, tapi ‘jiwa’nya sungguhlah luar biasa.
Ia suka berbicara, tapi setiap kalimatnya adalah obor penerang.
Ia suka makan, tapi berpuasa lebih disukainya.

Ia juga seorang pecinta wanita, tapi mencintai umatnya melebihi segalanya.
Ia manusia masa lalu, tapi visinya jauh ke depan melewati ruang dan waktu.
Ia diberi kuasa untuk menghukum, tapi ia lebih suka untuk memaafkan.
Ia sudah teruji kesabarannya, tapi kerap ia meneteskan air mata kesedihan…..

Baginya, ia sudah menemukan apa yang selama ini ia cari…
Siapa Tuhanku ?
Siapa Diriku ?

Ia harus tunaikan tugas suci ini, meski nyawa selalu dibayangi ujung pedang.
Ia harus kembalikan derajat manusia, meski caci-maki kerap ia rasakan.
Ia harus luruskan kembali perjalanan manusia ke arah yang benar.
Ia harus teruskan tugas2 pendahulunya yang belum terselesaikan.

Muhammad Sang Rasul…..
Penunggang unta, penguasa alam manusia….
Terpujilah engkau wahai sang nabi bijak bestari…
Shalawat dan salam untukmu wahai sang kekasih….


Cikarang, 27 Februari 2010

FM

Menakar Pemimpin Bangsa



Tulisan ini lahir dari rasa kerinduan akan lahirnya sesosok pemimpin bangsa Indonesia yang sangat ideal. Karena hasil pemilu menghasilkan partai-partai peraih suara yang significant yang ‘itu-itu juga’, maka figur yang akan memimpin bangsa ini sudah pasti ‘itu-itu juga’. Maka, kerinduan tinggal hanya kerinduan. Jadilah tulisan ini hanya sekedar berandai-andai…

Walaupun sosok pemimpin sejati itu sangat dibutuhkan dan didambakan semua orang, jangan berharap kita dengan mudah menemukannya. Ia bukanlah oxygen, yang dibutuhkan setiap orang tetapi dengan gampang bisa didapatkan. Ia bukanlah air, yang diperlukan untuk hidup tetapi keberadaanya berlimpah ruah di bumi ini. Ia adalah sebuah nilai yang harus dicapai melalui perjuangan. Ia adalah harta karun tersembunyi yang bisa ditemukan melalui cara memecahkan kode dan sandi rahasia.

Sejarah dunia telah melahirkan pemimpin-pemimpin besar, memang tidak banyak, tetapi bolehlah mereka dijadikan cermin oleh mereka yang bercita-cita jadi pemimpin besar. Jangan tanggung-tanggung, kalau mau jadi pemimpin jadilah pemimpin besar. Bukankah cita-cita itu harus digantungkan setinggi langit?. Ada ucapan dari Nabi Agung Muhammad SAW bahwa “seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya”, itu juga berkonotasi “seorang pemimpin sejati adalah cermin bagi pemimpin sejati lainnya”.

Mari kita lihat nama-nama ini yang sudah disepakati oleh ahli sejarah sebagai pemimpin sejati, pemimpin hebat di zamannya :

Sejujurnya, pikiran saya tertuju kepada sebuah nama yang pantas diposisikan paling layak dijadikan contoh pemimpin sejati. Ia lah seorang manusia terpilih, Muhammad SAW, hal ini disepakati juga oleh seorang sejarahwan barat, Michael Hart, yang menempatkan Muhammad pada urutan no.1 dalam bukunya “100 Tokoh Dunia Paling Berpengaruh Sepanjang Masa”. Tetapi, pandangan subjektif tentu mengemuka mengingat saya adalah seorang muslim, sudah pasti memprioritaskan Junjungannya sendiri. Untuk menetralisir pandangan ini, saya sengaja tidak membahas lebih lanjut tentang beliau. Saya akan menampilkan figur dua orang sahabat beliau, Umar dan ‘Ali, yang dalam kiprah kepemimpinannya tidak terlepas dari ajaran Sang Nabi. Saya ingin menegaskan bahwa pemimpin hebat, pemimpin sejati, tidak hanya lahir dari kelompok yang berlatar belakang Islam saja. Seperti berikut ini;

King David (Daud a.s.), adalah seorang raja juga nabi yang memimpin bangsa Yahudi Kuno yang masih bertauhid mengalahkan penguasa Palestina, Goliath, yang waktu itu masih berkepercayaan paganisme. Daud ini-lah yang berhasil membangun kota suci Jerusalem menjadi mercu suar ajaran monotheisme. Apa kehebatan David (Daud a.s.) ini? Kepada David (Daud a.s.) inilah, Tuhan menawarkan kekayaan dunia yang melimpah tetapi dia menolak. David (Daud a.s.) lebih memilih untuk tetap dekat dengan Tuhan. Memelihara dan mengajarkan ayat-ayat suci Tuhan dalam Kitab Suci Zabur (Mazmur). Berkah kekayaan dunia itu akhirnya diwariskan kepada sang anak, King Solomon (Sulaeman a.s.).

Umar bin Khattab, adalah sahabat dekat Nabi Muhammad SAW, Khalifah ke dua Islam, berwatak tegas. Apa yang bisa kita contoh dari kepemimpinan beliau? Pada masa kepemimpinan Umar, Islam mencapai puncak kejayaannya dengan berhasil menaklukan dua bangsa super power masa itu, Romawi dan Persia. Di tangan Umar lah kunci kekuasaan dan kekayaan dua bangsa besar itu dipegang. Tetapi apakah berdampak kepada kehidupan pribadi Umar? Dikisahkan, setelah penaklukan atas bangsanya penguasa Persia waktu itu bermaksud untuk mengunjungi sang Khalifah di Madinah dalam rangka menyerahkan kunci kota sebagai tanda pemindahan kekuasaan atas bangsa Persia ke tangan Islam. Setibanya di Madinah, penguasa Persia kebingungan karena tidak menemukan istana tempat bersemayamnya para pemimpin sebuah bangsa. Apa yang dibayangkan dalam kepalanya, bahwa khalifah Islam tentu berkantor di sebuah istana megah luluh sudah. Dan ia makin terhenyak manakala mendapatkan kenyataan menemukan Sang Khalifah sedang istirahat di atas tikar butut di pelataran Mesjid Nabi yang beratap pelepah daun kurma. Tidak ada mahkota emas dan jubah sutera kebesaran, yang ada hanya pakaian gamis biasa dengan beberapa tambalan disana-sini dan sebuah cambuk yang tak pernah lepas dari tangan beliau.

‘Ali bin Abu Thalib, Sahabat sekaligus kerabat dekat Rasulullah, Khalifah ke empat Islam. Dikenal sangat jenius, tegas tetapi beliau sangat pragmatis dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat. Apa kehebatan ‘Ali dalam hal kepemimpinan? ‘Ali tidak mengistimewakan seseorang dalam hal pembagian harta baitul mal. Antara seorang sahabat yang ikut berjuang bersama Rasul dalam peperangan dengan rakyat biasa diberikan hak yang sama. Begitupun, dalam hal mengangkat pembantu dalam pemerintahan, ‘Ali sangat teguh memegang amanat Rasulullah untuk tidak memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan. Kebijakan ini diberlakukan kepada Talhah dan Zubair ketika masing-masing meminta jabatan gubernur, tetapi dengan tegas ‘Ali menolak. Padahal, Talhah dan Zubair adalah dua sahabat dekat Rasulullah yang melindungi beliau pada waktu terjadi serangan balik kaum Quraisy dalam perang Uhud. Ada lagi, walaupun ‘Ali adalah seorang Khalifah tetapi beliau sangat patuh dengan hukum. Ini dibuktikan ketika beliau berperkara dengan seorang Yahudi tentang baju perang beliau yang hilang dan ditemukan di toko orang Yahudi tersebut. Tanpa sungkan-sungkan beliau duduk sejajar dengan orang Yahudi itu menerima keputusan hakim. Dan ‘Ali dinyatakan kalah dalam perkara hukum tersebut. Beliaupun menerimanya dengan lapang dada.

Mahatma Gandhi, pemimpin perlawanan rakyat India melawan imperialis Inggris. Apa hebatnya Gandhi? Gandhi adalah seorang terpelajar, seorang intelektual, lulusan sekolah hukum di Inggris. Hatinya ikut menderita manakala melihat penderitaan rakyat India di bawah kekuasaan penjajahan Inggris. Ia lemparkan ke tong sampah segala atribut advokat yang ada pada dirinya, yang semestinya bisa menghasilkan kekayaan buat dirinya. Ia pimpin rakyat India untuk melawan penjajahan. Dan hebatnya, keberhasilan revolusinya dengan cara tanpa kekerasan. Gandhi sudah memberi bukti bahwa kekuatan hati tidak bisa dirontokan oleh kekuatan senjata.

Lalu, sejarah Nusantara pun mencatat pemimpin-pemimpin hebat. Sebut saja Sri Jayanasa, pendiri kerajaan Sriwijaya yang wilayah kekuasaannya meliputi semenanjung Malaka sampai Tanah Genting Kra. Konon, pada masa Sriwijaya sudah dilaksankan hubungan diplomatik sampai ke Timur Tengah. Kemudian, ada Hayam Wuruk. Raja Majapahit yang termasyhur. Dalam kitab ‘Negara Kerthagama’ disebutkan bahwa pada masa ini lah Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan berhasil mempersatukan wilayah-wilayah di Nusantara. Dan pada masa ini pula rakyat mencapai kesejahteraan dengan istilah yang terkenal Gemah Ripah Loh Jinawi.

Terus bagaimana dengan para founding father kita? Tentu saja kita bisa menyebut mereka pun adalah para pemimpin hebat yang patut diteladani. Soekarno, Hatta, Muh. Yamin, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara adalah sebagian contoh pemimpin yang berjuang tanpa pamrih, berjuang tanpa memikirkan kekayaan pribadi. Sikap hidupnya yang sederhana bukan sebagai penghalang bagi mereka untuk melahirkan pikiran-pikiran brillian.

Dari berbagai nama yang sudah saya tampilkan, adakah kesamaan di antara mereka yang menjadikan mereka menjadi pemimpin sejati? Ada! Tanpa melihat latar belakang ras, suku, dan agama, mereka adalah pemimpin-pemimpin yang berjiwa spiritual tinggi. Tidak hanya dalam tingkat wacana saja, tetapi mereka manifestasikan ke dalam kehidupan pribadinya. Mereka tetap hidup sederhana meskipun kekuasaan ada di tangan mereka, hanya pribadi-pribadi unggul saja-lah yang mampu mencapai level ini. Bagi mereka, rakyat lah yang harus diutamakan. Dalam pemikiran seorang pemimpin sejati, dengan melayani rakyat berarti memegang amanah Ilahi. Dengan memegang amanah Ilahi berarti mengikuti perintah Tuhan yang berarti melayani Tuhan. Inilah nilai-nilai Spiritual yang dibutuhkan seorang pemimpin bangsa.

Dalam konteks Indonesia yang sedang menentukan pemimpin bangsa ke depan, serta menilik hasil perolehan pemilu 2009 yang baru lalu, nampaknya masih harus sedikit bersabar untuk menantikan pemimpin berjiwa spiritual tinggi, berperilaku hidup sederhana, yang mampu membawa negeri ini keluar dari berbagai krisis yang seolah-olah terus menerus menghantam tanpa henti. Memang tidak gampang.

Ahh.. andai saja….


Merdeka!


Faisal Mahbub

Catatanku untuk Sang Maestro


Rabu, 30 Desember 2009, pukul 18.45 WIB, bumi berhenti berputar sejenak. Telah berpulang “anak semua bangsa” KH. Abdurrahman Wahid ke pangkuan Sang Maha Pencipta. IA yang menciptakan makhlukNYA, IA pula yang akan mengambil kembali makhlukNYA…

Gus Dur, inilah panggilan akrabnya. Sebuah panggilan yang berkonotasi religius, sakral dan tak bisa disentuh tetapi Gus yang Dur ini tidaklah demikian. Jika masyarakat memberikannya gelar ‘Kiai’, jelaslah ia seorang religius. Ditambah dengan latar belakang keluarga, pendidikan, dan lingkungan sekitarnya makin kita paham bahwa dunia religi (dalam hal ini Islam) adalah dunia yang tidak bisa dipisahkan darinya. Tetapi, religiusnya Gus Dur malah bisa dirasakan oleh semua golongan dan agama. Ini kehebatan awal yang ingin saya sampaikan di sini.

Gus Dur, seorang religius tetapi ia berpikir merdeka. Hanya orang-orang yang berpikir picik lah yang menilai rendah bahkan menghujat pikiran-pikiran dan ide-ide keagamaannya. Sebuah kenyataan pahit memang, orang yang hanya tahu ‘satu-dua’ ayat suci sudah berani berkata tidak pantas terhadapnya. Terhadap orang-orang seperti ini, aku ibaratkan, seorang tukang batu yang ditanya tentang ciri-ciri berlian, ia akan jawab kasar dan hitam. Tukang batu hanya tahu tentang batu saja.

Gus Dur, sudah menampilkan citra Islam yang bisa diterima semua umat beragama yang ada di Indonesia dan Dunia. Ia tegakkan bendera Islam yang ‘rahmatan lil ‘alamiin’. Ia yang memperindah wajah Islam di Indonesia menjadi lebih ramah dan bersahabat. Ia seorang kiai tetapi dihormati oleh para pendeta, pastor, bikhu, bahkan Paus sekalipun. Ia membawa Islam menjadi juru damai bukan juru perang..!!!

Gus Dur, menempatkan manusia pada posisi khittah (genuine) sebagai seorang manusia. Manusia, siapapun itu dan agama apapun itu, tetap harus dipandang sebagai manusia, yang harus saling tolong menolong dan bersama-sama menjaga amanah dari Sang Pencipta. Tidak ada kasta di antara umat manusia. Tidak ada ras unggul di antara umat manusia. Begitu juga, tidak ada kasta dalam agama-agama di muka bumi ini. Agama yang satu tidak boleh merasa yang paling baik bagi agama lain, karena output beragama bukanlah menghasilkan sebuah konsep, tetapi laku ibadah pemeluknya yang benar-benar menjalankan perintah Tuhan. Dan ibadah, harus terefleksikan dengan sikap saling menyayangi sesama karena ini bagian dari perintah Tuhan. Tidak ada agama yang mengajarkan untuk memusuhi umat agama lain. Satu-satunya musuh bersama adalah hawa nafsu manusia. Dalam konteks inilah Tuhan menurunkan risalahNYa melalui para RasulNYA.

Gus Dur, mengajarkan kita tentang banyak hal. Keberaniannya dalam mengemukakan ide dan pikiran, sikapnya yang melindungi kaum minoritas, sangat mencintai agama dan bangsanya, visi kebangsaannya yang jauh ke depan yang kadang2 tidak bisa dipahami oleh orang awam dan ia tidak peduli dengan semua itu, baginya orang harus disiram air agar bangun dari tidurnya. Ia juga seorang pemberani tanpa tanding. Disaat orang-orang sedang asyik-asyiknya dibius oleh kenikmatan rezim orde baru, disaat semua menjadi penjilat pantat penguasa waktu itu, Ia lah yang dengan keberanian yang luar biasa melakukan perlawanan. Bukan tanpa resiko, berkali-kali ia luput dari maut hasil keganasan teror khas rezim saat itu.

Selamat jalan Sang Maestro….. Selamat jalan Gus… Tunai sudah tugasmu di dunia ini, biarlah kami yang akan meneruskan perjuanganmu. Sungguh, Tuhan sudah menempatkanmu di tempat yang layak, tempat dimana dipenuhi dengan cahaya Tuhan, tidak di dunia ini yang banyak makhluk-makhluk munafik dan kerdil yang kerap membuat luka di hatimu…

Innalillaahi Wa innalillaahi Raaji’uun.

31 Desember 2009

FM

Rabu, 14 Juli 2010

Aku Melihat

Kamu lihat itu sebuah halangan, ya mungkin kamu benar ..

Tapi, aku melihat masih ada jalan untuk melaluinya.


Kamu lihat itu sebuah kegagalan, ya mungkin kamu benar…

Tapi, aku melihat sebentar lagi kamu akan berhasil.


Kamu lihat itu sebuah musibah, ya mungkin kamu benar…

Tapi, aku melihat itu buah dari perbuatan kita.


Kamu lihat itu sebuah kejahatan, ya mungkin kamu benar…

Tapi, aku melihat itu sebuah kebaikan.


Kamu lihat itu sia-sia, ya mungkin kamu benar…

Tapi, aku melihat itu ada gunanya.


Kamu lihat dia itu setan, ya mungkin kamu benar…

Tapi, aku melihat dia sesosok malaikat.


Kamu lihat dia itu malaikat, ya mungkin kamu benar..

Tapi tidak buatku, aku melihat dia sesosok setan.


Kamu lihat itu cinta, ya mungkin kamu benar…

Tapi, berhati-hatilah.. aku melihat itu sebuah perangkap.


Kamu lihat dia seorang raja tega, ya mungkin kamu benar…

Tapi, aku melihat dia seorang guru sejati.


Kamu lihat itu sebuah labirin tanpa ujung, ya mungkin kamu benar…

Tapi, aku melihat sebuah jalan pintas mencapai tujuan.


Kamu lihat itu sebuah kegelapan, ya mungkin kamu benar…

Tapi, aku melihat cahaya dibaliknya.


Kamu ‘lihat’ itu TUHAN… ya mungkin kamu benar..

karena, aku juga ‘melihat’ itu TUHAN.


Cikarang, 21 Februari 2010


FM